Jl. Ampel 4 Papringan, Yogyakarta 55281 (+62 274) 586236
Jumat, 18 Oktober 2019

Selayang Pandang

GKJ Ambarrukma, semula adalah salah satu pepanthan GKJ Gondokusuman, yang didewasakan pada tanggal 17 Mei 1964 dengan pendeta konsulen Pdt. Dr. Harun Hadiwiyono, sedangkan tempat ibadah menumpang di Panti Asuhan Rekso Putro, Ngentak, Sapen. Pada saat didewasakan, jumlah warga sebanyak 359 jiwa, terdiri dari 183 warga dewasa dan 186 anak-anak dan dilayani oleh 4 orang penatua dan 2 orang diaken. Berikut peristiwa dan hal-hal penting sesudah pendewasaan:

  1. Pemanggilan Pendeta Pertama atas diri Pdt. M. Hardjosuwarno

Dari dua orang yang dicalonkan, dalam pemilihan terpilih Pdt. Marlam Hardjosuwarno, yang ditahbiskan menjadi pendeta GKJ Ambarrukma pada tanggal 17 Mei 1966.

  1. Tanah dan Gedung Gereja di Papringan

Atas berkat Tuhan, maka melalui upaya dan kerja keras Majelis Gereja bersama Warga Gereja untuk segera memiliki tempat ibadah sendiri, atas perkenan mantan lurah desa Papringan, akhirnya dapat membeli tanah seluas 1.250 m2 di dusun Papringan (sekarang Jalan Ampel 4 Papringan). Diatas tanah tersebut kemudian dibangun gedung gereja (sekarang Gedung Induk) yang diresmikan pemakaiannya pada tanggal 17 Mei 1975.

  1. Pepanthan Karangasem dan Menjadi Dewasa

Bermula dari pelayanan katekisasi bagi beberapa orang di sekitar dusun Karangasem, Condongcatur yang baptis dewasa, dengan beberapa pendatang, akhirnya warga di sekitar dusun Karangasem, Dero dan Condongcatur berkeinginan mengadakan ibadah di sekitar dusun tersebut. Setelah GKJ Ambarrukma berhasil mengusahakan tanah dan bangunan (sekarang pastori GKJ Condongcatur), pada tanggal 14 Mei 1967 tempat ibadah tersebut diresmikan dengan jumlah warga 150 jiwa. Karena letaknya yang cukup jauh dan jumlah warga yang cukup banyak, Majelis Gereja memandang perlu untuk mengangkat pembantu pendeta yaitu dalam diri Sdr. Yusuf Suratman, S.Th. yang ditetapkan kedudukannya sebagai pembantu pendeta pada tanggal 23 September 1979. Saudara tersebut akhirnya mengundurkan diri karena mengikuti wajib militer dan diangkat menjadi pendeta. Dalam perkembangannya, ada tawaran dari pemerintah setempat melalui Perumnas Condongcatur yang telah menyediakan tanah seluas 500 m2 untuk segera dibangun sebuah gereja, sebagai sarana ibadah khususnya bagi warga kristiani di lingkungan Perumnas Condongcatur. Hal tersebut ditanggapi dengan baik oleh Majelis GKJ Ambarrukma, yang kemudian membangun sebuah gedung gereja dengan dana yang berasal dari swadaya warga. Meskipun pembangunan belum selesai 100%, namun atas kehendak warga serta kesepakatan Klasis GKJ Yogyakarta Timur, wilayah 7 (Condongcatur dan sekitarnya) pada tanggal 5 Juli 1984, didewasakan dan diberi nama GKJ Condongcatur, dengan warga sejumlah 356 jiwa terdiri dari 168 warga dewasa dan 188 anak-anak.

  1. Tanah dan Gedung Gereja di Karangbendo

Bermula dari adanya 2 keluarga yang mempersembahkan tanah yang letaknya bersebelahan, yang semuanya seluas 1850 m2 tetapi belum ada jalan masuk ke lokasi tanah tersebut. Beberapa waktu kemudian, menyusul 2 keluarga yang mempersembahkan tanahnya untuk jalan masuk, selebar 5 meter dan panjang 60 meter. Keempat keluarga tersebut menghendaki supaya segera dibangun gedung gereja diatas tanah persembahannya. Meskipun pada saat itu pembangunan gedung gereja Condongcatur belum selesai 100% dan belum didewasakan, akhirnya diputuskan untuk segera memulai membangun sebuah gedung gereja lagi di atas tanah persembahan keempat keluarga yang berlokasi di dusun Karangbendo tersebut. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 1983. Meskipun pembangunan gedung gereja belum selesai seluruhnya, atas usul warga setempat, gedung tersebut mulai digunakan untuk ibadah Minggu pada tanggal 16 Agustus 1985. Pembangunan menghabiskan biaya sebesar Rp 25.000.000,- dan peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 17 September 1986 oleh Bupati Bantul bersamaan dengan penahbisan Pdt. Yusri Panggabean, S.Th.

  1. Pendeta Mahasiswa

Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan mahasiswa khususnya dilingkungan kota Yogyakarta, atas prakasa Badan Kerja Sama Persekutuan Gereja Indonesia Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (BKS PGI GMKI), melalui GKJ Ambarrukma dan kesepakatan Klasis Yogyakarta Timur GKJ memanggil seorang pendeta untuk pelayanan mahasiswa dalam diri Sdr. Yusri Panggabean, S.Th. Penahbisan dilaksanakan pada tanggal 17 September 1986 bersamaan dengan peresmian pemakaian gedung Gereja 2 Karangbenda.

  1. Pemanggilan Pendeta II (dalam diri Sdr. Bambang Subagyo)

Tanggal 1 Agustus 1984 Pdt. M Harjosuwarno memasuki masa emiritus. Sebagai konsulen yang ditunjuk oleh Klasis Yogyakarta Timur adalah Pdt. Imam Sukarjo, pendeta GKJ Samirono Baru. Setelah melalui beberapa tahapan, kemudian diajukan 2 orang calon yang dalam pemilihan akhirnya terpilih Bpk. Bambang Subagyo, Sm.Th, yang ditahbiskan tanggal 15 Juli 1987 di Gedung 2 Karangbenda. Selanjutnya Majelis Gereja meminta agar Pdt. Bambang Subagyo melanjutkan studi untuk menempuh program S1 Theologia, dan lulus pada tahun 1992.

  1. Pembangunan Pastori

Berkaitan dengan pemanggilan Pdt. Bambang Subagyo, Majelis Gereja bersama Warga Gereja berupaya menyediakan pastori, yang dibangun di sebelah utara Gedung 2 Karangbenda. Pembangunan dimulai awal bulan Mei 1987, menghabiskan dana Rp 10.000.000,- dan diresmikan bersama dengan penahbisan pendeta Bambang Subagyo, tanggal 15 Juli 1987.

  1. Perkembangan Jumlah Warga ditinjau dari 3 peristiwa:
No. Uraian Tahun Dewasa Anak Total
1. Saat didewasakan 1964 183 186 359
2. Pendewasaan GKJ Condongcatur 1984 1157 929 2086
  Pindah warga ke GKJ Condongcatur 1984 (168) (188) (356)
  Jumlah Warga 1984 989 551 1730
3. Peresmian Gedung 3 di Nologaten 1997 1639 926 2565
  1. Tanah dan Gedung 3 GKJ Ambarrukma di Nologaten

Salah satu wilayah GKJ Ambarrukma adalah wilayah 6 yang mempunyai daerah yang cukup luas. Daerah tersebut meliputi :

  • Sebelah Barat : Kali Gajah Wong
  • Sebelah Utara : Selokan Mataram
  • Sebelah Timur : Jalan Lingkar Utara (Maguwoharjo)
  • Sebelah Selatan : Jalan Laksda Adisucipto

Jumlah warga anak 217, dewasa 349, total 566.

Jumlah tersebut lebih banyak dibanding dengan waktu GKJ Ambarrukma didewasakan pada tanggal 17 Mei 1964, dimana jumlah warga saat itu hanya 359. Disamping daerah yang cukup luas dan jumlah warga yang cukup banyak, di daerah tersebut terdapat kampus Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturia milik Klasis Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Atas ijin pengurus Yayasan Pendidikan Kristen Marturia, pada tanggal 1 Maret 1986 warga wilayah 6 telah mengadakan ibadah sendiri dengan menempati 3 buah kelas di kampus tersebut setiap hari Minggu pukul 08.30 WIB.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk dapat mengusahakan tanah di sekitar Nologaten dan pada akhirnya atas berkat Tuhan, bekerjasama dengan pengurus YPK Marturia Yogyakarta untuk membangun gedung gereja di lokasi kampus STAK Marturia di Dusun Nologaten. Surat perjanjian kerja sama ditandatangani bersama pada tanggal 4 Juni 1993 dengan disaksikan para utusan Gereja se-Klasis Yogyakarta Utara, sesudah kebaktian pengutusan dalam diri Pdt. Sispitoyo, S.Th. menjadi Pendeta Pelayanan Umum di lingkungan Klasis GKJ Yogyakarta Utara. Setelah mendapatkan ijin prinsip dan ijin mendirikan bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, acara peletakan batu pertama diselenggarakan pada tanggal 12 Juni 1993 pukul 10.00 WIB, oleh Bupati Sleman, Drs. H. Arifin Illyas.

Meskipun pembangunan Gedung 3 Nologaten belum selesai 100%, namun atas kehendak warga wilayah 6, dan atas ijin Majelis Gereja, mulai hari Minggu tanggal 9 April 1995 gedung tersebut telah dipakai untuk ibadah.

  1. Pendeta Pelayanan Umum

Mengemban Keputusan Sidang V Klasis GKJ Yogyakarta Utara di GKJ Samironobaru, GKJ Ambarrukma dipercaya untuk menyelenggarakan kebaktian pengutusan Pendeta Pelayanan Umum dalam diri Pdt. Sispitoyo, S.Th. yang ditugasi untuk pekerjaan-pekerjaan pelayanan di kantor Klasis Yogyakarta Utara. Kebaktian diselenggarakan pada tanggal 4 Juni 1993 di Gedung 1, pukul 16.00 WIB, Jalan Ampel 4 Papringan Yogyakarta.

  1. Pemanggilan Pendeta III atas diri Sdr. Purwantoro Kurniawan, S.Th

Dengan semakin berkembangnya jumlah warga, dipandang perlu untuk memanggil seorang pendeta lagi. Setelah melalui proses/tahapan pencalonan, maka dalam pemilihan calon pendeta yang diselenggarakan pada tanggal 27 Juli 1995 telah terpilih Sdr. Purwantoro Kurniawan, S.Th. sebagai pendeta di GKJ Ambarrukma.

Ujian kependetaan dilaksanakan pada Sidang Kontrakta tanggal 30 Oktober 1996 di GKJ Ambarrukma dan dinyatakan lulus dan layak untuk ditahbiskan menjadi pendeta. Penahbisan dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Januari 1997 bersamaan dengan peresmian Gedung 3 GKJ Ambarrukma di Nologaten oleh Bupati Sleman.

  1. Gedung Gereja

Sampai dengan Tgl 17 September 2012, GKJ Ambarrukma mempunyai 3 gedung gereja, yaitu Gedung Gereja 1 di Papringan, Gedung 2 di Karangbendo dan Gedung 3 di Nologaten, namun sejak bulan Maret 2008, penyebutan Gedung 1 Papringan, Gedung 2 Karangbendo dan Gedung 3 Nologaten diganti menjadi Gedung Induk Papringan, Pepanthan Karangbendo dan Pepanthan Nologaten, ini sesuai dengan aspirasi warga khususnya di Pepanthan Karangbendo dan Pepanthan Nologaten yang kemungkinan akan menjadi dewasa di kemudian hari.

  1. Wilayah Pelayanan GKJ Ambarrukma

Wilayah Pelayanan GKJ Ambarrukma meliputi 9 wilayah, yaitu :

  • Wilayah 1 (daerah sekitar Mrican, Pringgondani, Karangmalang, Gejayan, Karanggayam)
  • Wilayah 2 Barat (daerah sekitar Demangan)
  • Wilayah 2 Timur (daerah sekitar Demangan Baru dan Papringan)
  • Wilayah 3 (daerah sekitar Sapen, Demangan Kidul dan Jalan Munggur)
  • Wilayah 4 (daerah sekitar Gendeng, Jalan Timoho, Gedongkuning, Umbulharjo)
  • Wilayah 5 Barat (daerah sekitar Gowok, Sorowajan Baru, Gedongkuning)
  • Wilayah 5 Tengah (daerah sekitar Karangbendo, Karangjambe, Sorowajan, Plumbon)
  • Wilayah 5 Timur (daerah sekitar Janti)
  • Wilayah 6 (daerah sekitar Nologaten, Ambarrukmo, Mundu, Seturan, Pringwulung, Babarsari).

Wilayah 1, 2 Barat, 2 Timur, 3 dan 4 berpusat kegiatan di Gedung Induk Papringan, Wilayah 5 Barat, 5 Tengah dan 5 Timur berpusat kegiatan di Pepanthan Karangbendo dan Wilayah 6 berpusat kegiatan di Pepanthan Nologaten. Walaupun demikian untuk pusat kegiatan seluruh gereja dan administrasi berada di Gedung Induk Papringan.