Jl. Ampel 4 Papringan, Yogyakarta 55281 (+62 274) 586236
Senin, 30 November 2020

Perihal Puasa Pra Paskah

24 November 2019 oleh Mimin - dibaca 1.013 kali

Perihal Puasa Pra Paskah

PENDAHULUAN

Kegiatan Pra-Paskah dalam Kalender Gerejawi dimulai dengan menghayati Rabu-Abu dalam lingkup Gereja-gereja Kristen Jawa, dan Gereja Kristen Indonesia Jawa Tengah, dilaksanakan mulai Rabu Abu, sampai dengan hari Sabtu sebelum Minggu Paskah dengan tujuan memperkokoh dasar penghayatan iman kita dalam menghadapi pergumulan hidup dalam suasana pertobatan serta mewujudkan kebenaran dan kesucian diri, dihadapan Tuhan dan sesama.

Salah satu kegiatan yang dianjurkan pada masa Pra-Paskah adalah puasa. Masa Pra-Paskah ini berbeda dengan pemahaman kalangan Yahudi dalam makna puasa menjelang Paskah, sebab Pra-Paskah kita dimaknai dengan penghayatan Perjanjian Baru akan masa sengsara sampai kebangkitan Yesus Kristus. Agar kegiatan ini dapat dihayati dengan baik dan benar, maka selintas disampaikan uraian tentang puasa pra Paskah.

PUASA DALAM PERJANJIAN LAMA

Dalam bahasa Iberani dipakai kata tsum dan Inna nafsya yang artinya merendahkan diri dengan berpuasa. Secara umum berpuasa berarti tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu.

Orang-orang Iberani melakukan puasa pada Hari Perdamaian dilakukan sejak matahari terbenam sampai matahari terbenam (Imamat 16:29-31; 23:27-32’ Bilangan 29:7) dan pada jaman sesudah pembuangan dilakukan juga buasa pada bulan tertentu (Zakaria 8:19).

Selain ketentuan tersebut diatas juga ada puasa yang dilakukan oleh perorangan dan kadang-kadang bersama-sama dengan beberapa maksud tertentu antara lain:

  1. Sebagai ungkapan perasaan dukacita. ( I Samuel 31:13; 2 Samuel 1:12; 3:35; Nehemia 1:4; Ester 4:3; Mazmur 35:13-14)
  2. Sebagai pernyataan pertobatan (1 Samuel 7:6; 1 Raja-raja 21:27; Nehemia 9:1-2; Daniel 9:3-4; Yunus 3:5-8)
  3. Sebagai ungkapan merendahkan diri di hadapan Tuhan (Ezra 8:21; Mazmur 69:11)
  4. Sebagai permohonan untuk mendapatkan bimbingan dan pertolongan Tuhan dalam persiapan diri sebelum melaksanakan tugas (Keluaran 34:28; Ulangan 9:9; 2 Samuel 12:16-23; 2 Tawarikh 20:3-4; Ezra 8:21-23; 1 Raja-raja 19:8)

Dalam Perjanjian Lama para Nabi menegur bahwa orang-orang yang melakukan puasa tetapi tidak diikuti dengan perilaku yang baik, adil dan benar itu akan sia-sia. (Yesaya 58:1-12; Yermia 14:11-12; Zakharia 7).

PUASA DALAM PERJANJIAN BARU

Dalam Perjanjian Baru dipakai kata nesteuo dan asitia, dilakukan melanjutkan tradisi Yahudi yaitu sebagai peringatan Hari Perdamaian (Kisah Para Rasul 27:9). Orang-orang Farisi ketat melakukan puasa setiap hari Senin dan Kamis (Lukas 18:12) sebagai upaya untuk memembangun kesalehan pribadi. Tuhan Yesus Kristus juga melakukan puasa selama 40 hari dalam rangka persiapan diri sebelum melaksanakan tugas sebagai Messias. Dalam pengejaran-Nya Tuhan Yesus Kristus menegur orang-orang yang berpuasa sekedar untuk mendapatkan pujian atau penghargaan orang lain, dan Ia menganjurkan agar bila seseorang berpuasa hendaknya jangan sampai orang lain tahu (Matius 6:16-18).

Dalam Perjanjian Baru ada rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari puasa, yakni sedekah, doa dan puasa (Matius 6:1-18) sebagaimana yang disampaikan Tuhan Yesus dalam pengajaran di bukit. Dalam konteks itu, kewajiban melaksanakan sedekah, doa dan puasa mendorong orang dekat kepada Tuhan dan sesama, namun dalam praktiknya orang Israel (Yudais) hanya melulu mementingkan arti harafiah dan lahiriah dengan pamrih tidak benar dihadapan Tuhan, sehingga Tuhan Yesus menekankan makna hakiki dari sedekah, doa dan puasa, agar manusia melakukan dengan benar.

Gereja mula-mula puasa dilakukan sebelum jemaat memilih para utusan atau pemimpinnya. (Kisah Para Rasul 13:2-3; 14:23). Dan dalam melaksanakan tugas pelayanannya Paulus juga melakukan doa dan puasa (2 Korintus 6:5; 11:27). Di Gereja Roma Katolik, puasa dilakukan untuk merenungkan masa sengsara Kristus yaitu dilakukan pada pada hari-hari tertentu di Minggu Pra Paskah yaitu 40 hari sebelum Paskah yaitu Aksi Puasa Pra Paskah. Dalam melakukan puasa, tidak ada ketentuan yang tetap, melainkan umat diberi kebebasan untuk menentukan sesuai dengan niatnya. Apakah akan melakukan puasa penuh, makan 2 kali sehari, membatasi makan tidak sampai kenyang, atau berpantang makanan/minum sesuatu yang disukainya. Dalam kegiatan tersebut, juga dilakukan pengumpulan dana APP sebagai wujud keperdulian terhadap sesama yang sedang menderita.

PUASA PRA-PASKAH DALAM GEREJA KRISTIANI

Puasa Pra-Paskah dapat dilakukan dengan tujuan:

  1. Mengenang dan memahami makna kesengsaraan dan kematian Kristus bagi pemulihan martabat manusia sebagai gambar Allah.
  2. Menyatakan pertobatan dan penyerahan diri kepada Kristus untuk dipulihkan martabatnya, serta memohon bimbingan dan pertolongan agar dapat setia dalam mengemban tugas panggilan selaku kawan sekerja Allah dalam memulihkan martabat manusia.
  3. Melatih diri untuk mengendalikan diri agar tidak diperbudak oleh keinginan dan hawa nafsu yang tidak benar (Roma 6 : 3 - 13)
  4. Mempertajam semangat solidaritas dan sosial (tepo-sliro) agar dapat meningkatkan keperdulian terhadap sesama yang menderita.

KAPAN DAN BAGAIMANA PUASA DILAKUKAN

Mulai kapan dan berapa lama, serta bagaimana Puasa Pra Paskah dilakukan, sepenuhnya diserahkan pada niat dan tekad setiap pribadi.

Beberapa bentuk Puasa Pra Paskah yang dapat dipilih antara lain:

  1. Tidak makan dari matahari terbenam sampai terbenam (24 jam).
  2. Hanya makan sehari dua kali.
  3. Makan tidak sampai kenyang.
  4. Berpantang tidak melakukan apa yang disukai misalnya : makan daging, minum kopi atau teh manis, merokok, kesukaan maupun kebiasaan yang tidak baik yang selalu dilakukan. 

BUAH-BUAH YANG DIHARAPKAN

GKJ Ambarrukma pada tahun-tahun sebelumnya telah melaksanakan kegiatan puasa, yang harapannya terus dapat dilanjutkan dengan sikap yang baik, benar dan bermanfaat dalam membangun kepekaan dan kepedulian sosial. Oleh karena itu marilah kita hayati kembali, buah-buah yang diharapkan sesudah melakukan Puasa Pra Paskah antara lain:

  1. Pulihnya kembali martabat sebagai anak-anak Allah yang membenci dosa, hidup di jalan Tuhan yang senantiasa berusaha mencerminkan citra Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Pulihnya kembali kepekaan dan solidaritas terhadap sesama bahkan pada seluruh ciptaan yang akan tercermin dalam pergaulan hidup sehari-hari di tengah jemaat maupun masyarakat.
  3. Salah satu usulan bentuk manfaat puasa yaitu menyisihkan dan mengumpulkan biaya yang tidak dipergunakan selama Puasa Pra Paskah dengan bentuk ungkapan ucapan syukur sesuai niatnya berpuasa. 

Contoh:

  • Seorang yang makan sehari tiga kali, pada masa pra Paskah berniat hanya akan makan dua kali. Maka biaya makan yang sekali itu dikumpulkan dan dapat dipersembahkan sebagai persembahan Jemaat Peduli atau bentuk ungkapan ucapan syukur yang lain sesuai niatnya berpuasa.
  • Seorang yang biasanya sehari menghabiskan rokok 2 bungkus, pada masa pra Paskah berniat hanya akan menghabiskan 1 bungkus rokok saja atau tidak merokok sama sekali. Maka biaya untuk beli rokok dikumpulkan dan dipersembahkan sebagai persembahan Jemaat Peduli atau kegiatan pelayanan lainnya sesuai niatnya berpuasa.

 

PENUTUP

Puasa yang ada dalam kesaksian kitab suci bukan cara mencari keselamatan, namun upaya menghayati karya penyelamatan Tuhan yang memberi anugerah pokok keselamatan kepada manusia, sehingga manusia dapat memelihara iman dengan ketekunan pengendalian diri serta peduli pada kehidupan seutuhnya. Puasa dapat dilaksanakan dengan cara yang benar, dan tidak ada konsekuensi mengikat bagi yang tidak melaksanakan puasa.


Komentar